Allah Ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

 

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An Nahl ayat 78)

 

Firman Allah Ta’ala juga,

 

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

 

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong. (QS. Al Hajj ayat 78)

 

Dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah bersabda,

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سَوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إلاَّ لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Tiga sifat yang jika ada pada diri seseorang, ia akan meraih manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) ia mencintai seseorang, tidaklah mencintainya melainkan karena Allah, (3) ia membenci untuk kembali kepada kekafiran—setelah Allah menyelamatkannya darinya—sebagaimana ia benci apabila dilempar ke dalam api.” (Shahih al Bukhari hadits no 6941, Shahih Muslim hadits no. 43)

 

Di antara adab terhadap Allah, adalah engkau mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, bahwasanya Dia-lah Allah Sang Pencipta, Sang Penguasa, Yang Maha Agung, Yang Mengatur segala urusan. Sang Raja yang Maha Hidup dan Maha Kekal, Sang Pemberi Rizqi, dan seterusnya nama-nama-Nya yang Indah dan sifat-sifat-Nya yang Tinggi.

Hendaknya engkau menshifati Allah sesuai dengan shifat Allah yang Allah berikan untuk diri-Nya sendiri, tanpa mengubahnya, menyerupakannya, meniadakannya, ataupun menyamakannya dengan makhluq.
Hendaknya pula engkau menyembah Allah saja, tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain, tidak membuat tandingan, padanan, penyerupaan kepada Allah, dan hendaknya engkau mengetahui pula bahwa seluruh nikmat yang kau miliki sesungguhnya datang dari Allah, maka hendaknya engkau memuji-Nya, bersyukur kepada-Nya, hendaknya pula engkau mengetahui bahwa Allah tidak membutuhkan engkau sedikitpun, meskipun hanya sekejap mata ataupun lebih sedikit dari itu.

 

Di antara adab terhadap Allah juga engkau merendahkan diri kepada-Nya, tunduk, menjauhkan diri dari apa-apa yang Allah larang, melakukan apa yang Allah perintahkan, tidak bermaksiat kepada Nya selama-lamanya, mengikhlaskan diri dalam beribadah, engkau malu jika Allah melihatmu dalam keadaan melakukan apa yang Allah benci, engkau takut akan akibat dosa dan kemashiyatanmu, serta engkau menyadari kekuranganmu serta sikap berlebihanmu pada dirimu.

 

Di antara adab terhadap Allah juga adalah engkau tidak menentang larangan dan perintah Nya, engkau mengagungkan syiar-syiar agama Allah, memperhatikan hal-hal yang diharamkan, mengerjakan perintah-perintah Nya dengan penuh penerimaan atas perintah tersebut, dan engkau senantiasa “dengar dan ta’at” atas perintah-Nya, serta senantiasa mengingat-Nya dalam setiap keadaan.

 

Di antara adab terhadap Allah juga adalah engkau menjadikan hukum Allah sebagai pemutus dalam setiap perselisihanmu dan menerima hukum Allah tersebut dalam setiap perkara.

 

Di antara adab terhadap Allah juga adalah engkau merasa malu kepada Nya, engkau meninggalkan dosa-dosa yang hina, engkau tidak mengurangi perintah dan hak-hak Allah, engkau menyadari seluruh nikmat dan keutamaan yang telah Allah berikan kepadamu dan engkau menjaganya baik dalam keadaan sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan. Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya, no. 37, dari Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam,

 

الحياء خير كله

“Malu itu seluruhnya baik.”

 

Di antara adab terhadap Allah juga adalah engkau memuji-Nya dan engkau bersyukur kepada Nya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam,

 

إنَّ اللهَ لَيَرْضى عَنْ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ علَيها أو يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدِهُ عَليها

 

“Sesungguhnya Alloh meridhoi hambanya yang makan makanan atau minum minuman kemudian dia memuji Alloh atasnya”. (HR Muslim, no. 2734)

 

Juga di antara adab terhadap Allah adalah engkau engkau membaca al-Qur’an, merenungi maknanya, mengetahui hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya, serta memuliakan al-Qur’an karena sesungguhnya dia adalah Kalam (firman) Allah Yang Maha Tinggi.

Allah berfirman,

 

الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

 

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS. Ibrahim ayat 1)

Juga firman-Nya,

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

 

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (QS. Al Hajj ayat 32).

 

 

Selesai diterjemahkan pada hari Kamis 24 Rabi’ul Akhir 1439 H / 11 Januari 2018

di sekretariat Masjid Jenderal Sudirman WTC Jakarta.