2 Pilar Penting Kehidupan Manusia; Ilmu & Harta oleh Ustadz Dr. Amir Faishol Fath, M.A.

Disampaikan dalam Kajian Dzuhur

Di Masjid Jenderal Sudirman, Komplek WTC Jakarta

Tanggal 31 Oktober 2017

Download kajiannya dalam bentuk audio di sini

“Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”
(Shahih Muslim 2674-16)

Silahkan bagikan artikel video ini untuk mendapatkan pahala jariyah.

* Like fanpage kami : facebook.com/MasjidJenderalSudirmanWTC
* Follow twitter kami : twitter.com/mjs_wtc
* Follow instagram kami : instagram.com/mjs_wtc
* Subcribe channel kami : youtube.com/MasjidJenderalSudirmanWTC

Model Hati dalam Al Qur’an oleh Ustadz Drs. Deny Abdul Wahab

Disampaikan dalam Kajian Dzuhur

Di Masjid Jenderal Sudirman, Komplek WTC Jakarta

Tanggal 30 Oktober 2017

Download kajiannya dalam bentuk audio di sini

“Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”
(Shahih Muslim 2674-16)

Silahkan bagikan artikel video ini untuk mendapatkan pahala jariyah.

* Like fanpage kami : facebook.com/MasjidJenderalSudirmanWTC
* Follow twitter kami : twitter.com/mjs_wtc
* Follow instagram kami : instagram.com/mjs_wtc
* Subcribe channel kami : youtube.com/MasjidJenderalSudirmanWTC

Munculnya al-Massih ad-Dajjal (Lanjutan) oleh Habib Salim al-Muhdhor, Lc., M.A.

Disampaikan dalam Kajian Lepas Kantor

Di Masjid Jenderal Sudirman, Komplek WTC Jakarta

Tanggal 27 Oktober 2017

Download kajiannya dalam bentuk audio di sini

“Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”
(Shahih Muslim 2674-16)

Silahkan bagikan artikel video ini untuk mendapatkan pahala jariyah.

* Like fanpage kami : facebook.com/MasjidJenderalSudirmanWTC
* Follow twitter kami : twitter.com/mjs_wtc
* Follow instagram kami : instagram.com/mjs_wtc
* Subcribe channel kami : youtube.com/MasjidJenderalSudirmanWTC

Sifat yang Menghantarkan Hidup yang Mudah Menurut Konsep Al-Qur’an oleh Ustadz Ir. Zaid Bachmid

Disampaikan dalam Khutbah Jum’at

Di Masjid Jenderal Sudirman, Komplek WTC Jakarta

Tanggal 27 Oktober 2017

Download kajiannya dalam bentuk audio di sini

“Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”
(Shahih Muslim 2674-16)

Silahkan bagikan artikel video ini untuk mendapatkan pahala jariyah.

* Like fanpage kami : facebook.com/MasjidJenderalSudirmanWTC
* Follow twitter kami : twitter.com/mjs_wtc
* Follow instagram kami : instagram.com/mjs_wtc
* Subcribe channel kami : youtube.com/MasjidJenderalSudirmanWTC

Kajian Matan Abu Syuja’ (Shalat: Sunnah Shalat Bagian #2) oleh Ustadz Anshari Taslim, Lc.

Disampaikan dalam Kajian Kitab Matan Abu Syuja’

Di Masjid Jenderal Sudirman, Komplek WTC Jakarta

Tanggal 26 Oktober 2017

Download kajiannya dalam bentuk audio di sini

“Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”
(Shahih Muslim 2674-16)

Silahkan bagikan artikel video ini untuk mendapatkan pahala jariyah.

* Like fanpage kami : facebook.com/MasjidJenderalSudirmanWTC
* Follow twitter kami : twitter.com/mjs_wtc
* Follow instagram kami : instagram.com/mjs_wtc
* Subcribe channel kami : youtube.com/MasjidJenderalSudirmanWTC

Riba & Bunga Bank oleh Ustadz Muhammad Rubiul Yatim, S.E., M.Ag

Disampaikan dalam Kajian Dzuhur

Di Masjid Jenderal Sudirman, Komplek WTC Jakarta

Tanggal 26 Oktober 2017

Download kajiannya dalam bentuk audio di sini

“Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”
(Shahih Muslim 2674-16)

Silahkan bagikan artikel video ini untuk mendapatkan pahala jariyah.

* Like fanpage kami : facebook.com/MasjidJenderalSudirmanWTC
* Follow twitter kami : twitter.com/mjs_wtc
* Follow instagram kami : instagram.com/mjs_wtc
* Subcribe channel kami : youtube.com/MasjidJenderalSudirmanWTC

Kajian Kitab Tafsir Ibnu Katsir (Bab: Muqoddimah 3-7) oleh Ustadz Muhammad Setiawan

Disampaikan dalam Kajian Kitab Tafsir Ibnu Katsir

Di Masjid Jenderal Sudirman, Komplek WTC Jakarta

Tanggal 25 Oktober 2017

Download kajiannya dalam bentuk audio di sini

“Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”
(Shahih Muslim 2674-16)

Silahkan bagikan artikel video ini untuk mendapatkan pahala jariyah.

* Like fanpage kami : facebook.com/MasjidJenderalSudirmanWTC
* Follow twitter kami : twitter.com/mjs_wtc
* Follow instagram kami : instagram.com/mjs_wtc
* Subcribe channel kami : youtube.com/MasjidJenderalSudirmanWTC

Menutupi Kekurangan oleh Ustadz Syahroni Mardani, Lc.

Disampaikan dalam Kajian Dzuhur

Di Masjid Jenderal Sudirman, Komplek WTC Jakarta

Tanggal 25 Oktober 2017

Download kajiannya dalam bentuk audio di sini

“Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”
(Shahih Muslim 2674-16)

Silahkan bagikan artikel video ini untuk mendapatkan pahala jariyah.

* Like fanpage kami : facebook.com/MasjidJenderalSudirmanWTC
* Follow twitter kami : twitter.com/mjs_wtc
* Follow instagram kami : instagram.com/mjs_wtc
* Subcribe channel kami : youtube.com/MasjidJenderalSudirmanWTC

Dua Jalan Kemuliaan Ummat, Pengantar Kajian Kitab Tauhid

Oleh Ustadz Abu Yahya Adrial, Lc

Allahu Ta’ala berfirman dalam surat al Fath ayat 28

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.

Dalam ayat ini Allah Ta’ala menyatakan, bahwa Allah Ta’ala telah mengutus Rasul-Nya yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam, kepada kita. Dan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam itu dengan membawa dua hal. Yang pertama adalah, Hudan, petunjuk. Yang kedua adalah ad-Diinul Haq, agama yang haq.

 

Para ulama ahli Tafsir, mereka menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Hudan itu adalah al-‘Ilmun Naafi’, ilmu yang bermanfaat. Kemudian yang dimaksud dengan ad Diinul Haq adalah al-‘amalus shaalih, amal kebajikan yang mereka lakukan berdasarkan ilmu yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Maka ketika Allah mengatakan liyuzh-hirohu ‘alad diini kullih (Allah akan memenangkan agama Islam ini atas semua agama), dan juga Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan al islamu ya’lu wa laa yu’la ‘alayhi (islam itu tinggi dan tidak ada yang menandinginya), maka kemenangan dan ketinggian Islam itu ada penyebabnya. Sebab yang pertama, pemeluk agama Islam ini memiliki ilmu. Berilmu tentang agamanya. Berilmu tentang apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Untuk itu menuntut ilmu diwajibkan dalam agama kita. Dan seorang muslim itu dilarang menjadi orang yang bodoh mengenai agamanya.

Allah Ta’ala berfirman :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (QS Al-Israa ayat 36)

 

Untuk itu hendaknya setiap kita mengetahui hal ini dengan baik, bahwasanya wajib bagi kita mengetahui tentang agama kita, jika kita ingin Islam ini menjadi agama yang mulia, agama yang tinggi di atas agama-agama yang lain. Saat ini ummat Islam ini dalam posisi yang lemah dan kalah, salah satunya penyebabnya adalah karena kebanyakan dari kaum muslimin tidak mengetahui tentang agamanya dengan baik sehingga mereka jauh dari petunjuk agamanya.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Apabila kamu melakukan jual beli dengan sistem ‘iinah (sistem ribawi), menjadikan dirimu berada di belakang ekor sapi, ridha dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menjadikan kamu dikuasai oleh kehinaan, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari dirimu sebelum kamu rujuk (kembali) kepada dien kamu”. [Hadist Shahih riwayat Abu Dawud].

Jika kaum muslimin sudah mencari nafkah dengan cara-cara yang tidak benar, mereka tidak peduli lagi dengan halal dan haram. Salah satunya dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mereka jual beli dengan sistem ‘iinah. Salah satu sistem riba yang tidak dibenarkan dalam agama.

Setelah mereka mencari nafkah dengan cara yang tidak benar, hidup mereka pun tidak berkah. Sehingga mereka pun makin sibuk dengan kehidupan dunia. Hal ini digambarkan dalam hadits tadi dengan sibuk dengan berada di belakang ekor sapi dan bercocok tanam, sibuk dengan peternakan dan perkebunan, sebagai mata pencaharian utama pada masa itu selain berdagang. Hari-hari mereka pun habis untuk mengejar urusan dunia.

Padahal Allah Ta’ala berfirman,

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi (QS Al Qashash ayat 77)

Allah menyeru kepada kita agar kita sibuk mengejar kebahagiaan di kampung keabadian, kampung akhirat. Inilah tujuan kita diciptakan oleh Allah Ta’ala. Di samping itu Allah menyatakan, wa laa tansaa nashibaka minad dunya, jangan pula kalian lupakan nashib kalian di dunia. Artinya, dunia itu hanya sarana saja. Bukan tujuan. Sehingga jangan sampai, karena sebab sibuk urusan dunia, kita melupakan akhirat, kita melupakan Allah Ta’ala, kita melupakan hakikat diri kita sebagai hamba Allah sebagai budak Allah Ta’ala.
Seharusnya kita ingat bahwa kita diciptakan Allah untuk menjadi budak-Nya

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. (QS Adz Dzariyat ayat 56 – 57)

 

Kita diciptakan oleh Allah Ta’ala untuk beribadah, sedangkan rizki diberikan oleh Allah Ta’ala. Maka jangan sampai ketika kita mencari rizki, kita melalaikan Allah Ta’ala. Inilah yang kebanyakan terjadi di kalangan manusia, dunia menjadi tujuan, akhirat hanya menjadi sarana saja. Karenanya seringkali ada orangtua yang menasehati anak-anaknya agar kerja dengan sungguh-sungguh, cari dunia yang sungguh-sungguh, tapi jangan lupa shalat. Inilahyang akhirnya mengakibatkan tertanamnya dalam benak kita cinta kepada dunia. Semangat cari dunia asal jangan lupa shalat. Sampai-sampai ada yang berfikir shalat Dzuhur jam 15.00 tidak apa-apa yang penting jangan lupa sholat. Padahal Allah menyuruh kita untuk mencari akhirat. Dunia hanya jangan dilupakan. Jangan dilupakan artinya apa ..? Artinya hanya sekedarnya saja, karena bukan tujuan kita. Harusnya kita sebagai orangtua menasehati anak-anak kita agar sungguh-sungguh beribadah, sungguh-sungguh shalat, akan tetapi jangan lupakan dunia. Jangan dibalik.

 

Sebagaimana tujuannya adalah pulang kampung misalnya pas lebaran, akan tetapi Anda harus mampir istirahat di rest area. Tempat istirahat ini bukan tujuan kita. Sehingga jangan santai-santai dan berlama-lama kita di tempat itu, akhirnya pulang kampungnya tidak jadi.

 

Nah, dunia itu seperti itu. Bukan tujuan, sekedar saja, hanya sarana untuk meningkatkan ibadah kita kepada Allah Ta’ala.

Karenanya Allah Ta’ala menerangkan di dalam al-Qur’an tentang orang-orang yang beribadah kepada Allah namun tidak melupakan kehidupan dunianya.

Allah Ta’ala berfirman,

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS. An Nuur ayat 37)
Allah Ta’ala memuji orang-orang yang sungguh-sungguh berusaha, tapi usaha mereka tidak membuat mereka lalai dari mengingat Allah, dari menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Kenapa mereka bisa seperti itu ..? Karena mereka yakin dengan hari akhir. Karena mereka takut dengan datangnya satu hari, yang pandangan dan hati pada hari itu akan gemetar. Bagaimana mungkin mereka tidak gemetar ..? Mereka melihat Allah Ta’ala meng-hisab para hamba-Nya dan di hadapan mereka ada neraka. Mereka takut kepada Allah, sehingga mereka selalu ingat Allah shalat, zakat, beribadah dengan sungguh-sungguh, akan tetapi perniagaan mereka tidak mereka lupakan.

Sehingga, marilah kita jadikan dunia ini sebagai sarana untuk meningkatkan ibadah kita kepada Allah Ta’ala, dan tujuan kita adalah ibadah, jangan sampai salah tujuan.

Untuk beribadah kepada Allah Ta’ala ini juga kita butuh ilmu. Jika manusia tidak memiliki ilmu, ia akan melupakan Allah Ta’ala dan sibuk dengan kehidupan dunia. Sehingga, jika manusia tidak punya ilmu dan sibuk dengan dunia, penyakit pertama yang akan timbul dalam jiwa mereka adalah, takut mati. Manusia yang takut mati, akan meninggalkan jihad fii sabilillah.

 

Bagaimana mungkin tidak takut mati. Mereka telah menghabiskan seluruh waktunya untuk dunia. Setelah dunia didapatkan dengan susah payah tidak akan mungkin mau ditinggalkan. Tidak akan mau berjihad.

Kalau sudah seperti ini, kata Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, “sallathallahu ‘alaykum dzullan, Allah akan timpakan kehinaan kepada kaum muslimin.” Hinaan kepada kaum muslimin terjadi setelah mereka tidak memperhatikan halal-haram dalam berniaga dan sibuk dengan dunia. Kemuliaan itu akan kembali setelah mereka kembali kepada ajaran agama mereka. Kembali kepada ajaran Islam.

 

Untuk itu, sekali lagi kita butuh ilmu. Karena kita tidak akan tahu ajaran agama jika kita tidak belajar. Untuk itu, menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap kita. Kalau tidak, Allah akan menimpakan kehinaan kepada kita. Dan ilmu yang dituntut oleh Allah Ta’ala untuk kita cari adalah, ilmu yang bermanfaat. Inilah ilmu yang kita pinta setiap pagi, selesai shalat shubuh, sebelum kita mulai beraktifitas keluar dari rumah kita.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam selalu mengajarkan kepada kita tiga permintaan setiap pagi. Jangan lupakan do’a ini (HR Imam Ahmad dan Ibnu Majah).

Yang pertama,

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً

Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat,

 

Kemudian, kita minta

وَرِزْقاً طَيِّباً،

Rizqi yang baik

 

Kemudian, kita minta kepada Allah

وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Agar amal-amal kita diterima oleh Allah Ta’ala

 

Para Ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang melahirkan amal. Untuk itu syarat kedua (setelah syarat pertamanya adalah semangat mencari ilmu), agar kita dimuliakan oleh Allah Ta’ala adalah, jika kita telah mengamalkan ilmu kita. Bukan sekedar mempelajari ilmu saja tanpa diamalkan. Untuk itulah, Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. (QS al Hujurat ayat 14)

 

Apa yang dimaksud dengan orang yang bertaqwa ..? Orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang menjalankan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Maka ketika seseorang yang berilmu tapi ia tidak mengamalkan ilmunya, maka ia tidak akan disebut memiliki ilmu yang bermanfaat. Karena, ingatlah, bahwa yang akan ditimbang oleh Allah Ta’ala di hari kiamat bukanlah ilmu kita, tapi amal-amal kita.

Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula  (QS Al Zalzalah ayat 7-8)

 

Juga dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,

فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ (6) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (7) وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ (8) فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ (9)

Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. (QS Al Zalzalah ayat 6-9)

 

Sehingga, orang yang sudah menuntut ilmu sekalipun, jika ilmunya ada di otak di benaknya, maka ilmu tidak bisa disebut sebagai ilmu yang bermanfaat. Ilmu mereka tidak ada manfaatnya, tetap mereka akan dihinakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Karena hakikat agama Islam, adalah agama ‘amal, bukan agama yang mementingkan slogan-slogan. Karena ketika kita bersaksi, mengucapkan syahadat sebelum masuk Islam, kita bersaksi tidak ada yang berhak disembah, diibadahi selain Allah. Berarti kita wajib beribadah, wajib menyembah, wajib ber’amal, wajib merealisasikan ilmu yang kita miliki.

Hanya dengan dua jalan inilah, ummat Islam akan kembali mulia. Ummat Islam akan lepas dari kehinaan dan keterpurukannya jika melalui jalan ilmu dan jalan ‘amal. Semangat menuntut ilmu dan semangat mengamalkan ilmunya.

 

Untuk itu kita patut bersyukur, jika Allah Ta’ala masih memberikan kesempatan kepada kita untuk mencari ilmu dan hadir di majelis-majelis ilmu, karena itu berarti Allah Ta’ala sedang menuntun kita menuju jalan kemuliaan.

Di antara ilmu yang paling penting dari ilmu-ilmu yang penting untuk dipelajari oleh setiap muslim, adalah Ilmu Tauhid. Karena ini merupakan ilmu yang menjadi pondasi dasar dari ilmu-ilmu yang lain. Ilmu Tauhid ini adalah ilmu yang sering kita dengar namanya akan tetapi dalam prakteknya kita sering keliru dalam men-Tauhid-kan Allah. Banyak yang menyangka dirinya telah ber-Tauhid padahal kehidupannya jauh dari Tauhid.

Ilmu Tauhid ini jugalah yang akan pertama kali ditanya oleh Allah Ta’ala melalui malaikat-Nya, ketika kita meninggalkan alam dunia ini.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ أَوْ قَالَ أَحَدُكُمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَالآخَرُ النَّكِيرُ ، فَيَقُولَانِ : مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ ؟ فَيَقُولُ مَا كَانَ يَقُولُ : هُوَ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . فَيَقُولانِ : قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ هَذَا ، ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا فِي سَبْعِينَ ، ثُمَّ يُنَوَّرُ لَهُ فِيهِ ، ثُمَّ يُقَالُ لَهُ : نَمْ ، فَيَقُولُ : أَرْجِعُ إِلَى أَهْلِي فَأُخْبِرُهُمْ ، فَيَقُولَانِ : نَمْ كَنَوْمَةِ الْعَرُوسِ الَّذِي لا يُوقِظُهُ إِلا أَحَبُّ أَهْلِهِ إِلَيْهِ حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ .

وَإِنْ كَانَ مُنَافِقًا قَالَ : سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ فَقُلْتُ مِثْلَهُ لا أَدْرِي . فَيَقُولَانِ : قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ ذَلِكَ ، فَيُقَالُ لِلأَرْضِ : الْتَئِمِي عَلَيْهِ ، فَتَلْتَئِمُ عَلَيْهِ ، فَتَخْتَلِفُ فِيهَا أَضْلاعُهُ ، فَلا يَزَالُ فِيهَا مُعَذَّبًا حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ ) والحديث حسنه الألباني في صحيح الترمذي .

“Apabila mayit atau salah seorang dari kalian sudah dikuburkan, ia akan didatangi dua malaikat hitam dan biru, salah satunya Mungkar dan yang lain Nakir, keduanya berkata: Apa pendapatmu tentang orang ini (Nabi Muhammad)?, maka ia menjawab sebagaimana ketika di dunia: Abdullah dan Rasul-Nya, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Keduanya berkata: Kami telah mengetahui bahwa kamu dahulu telah mengatakan itu. Kemudian kuburannya diperluas 70 x 70 hasta, dan diberi penerangan, da dikatakan: Tidurlah. Dia menjawab: “Aku mau pulang ke rumah untuk memberitahu keluargaku”. Keduanya berkata: “Tidurlah, sebagaimana tidurnya pengantin baru, tidak ada yang dapat membangunkannya kecuali orang yang paling dicintainya, sampai Allah membangkitkannya dari tempat tidurnya tersebut”.

 

Apabila yang meninggal adalah orang munafik, ia menjawab: Aku mendengar orang mengatakan akupun mengikutinya dan saya tidak tahu. Keduanya berkata: kami berdua sudah mengetahui bahwa kamu dahulu mengatakan itu. Dikatakan kepada bumi: Himpitlah dia, maka dihimpitlah jenazah tersebut sampai tulang rusuknya berserakan, dan ia akan selalu merasakan adzab sampai Allah bangkitkan dari tempat tidurnya tersebut. (Hadits ini dihasankan oleh Al Baani dalam shahih Tirmidzi)

Ujian pertama kali yang akan diberikan kepada manusia setelah wafat adalah tentang tiga hal, yang pertama adalah pertanyaan, Man Robbuka ..Siapa Tuhanmu .. Pertanyaan tentang Tauhid.

Untuk itu pembahasan tentang Tauhid adalah pembahasan tentang Allah Ta’ala. Sehingga seorang hamba dapat mengenal Tuhannya dengan baik. Mengenal juga hak-hak-Nya sehingga ia dapat menunaikan hak Rabb-nya dengan baik tanpa menguranginya.
Tentunya pembahasan tentang ini akan sangat panjang, dan butuh safar (perjalanan) ilmiyyah yang lama. Juga butuh pengkajian yang serius, dengan waktu yang cukup dan buku panduan yang memandai.
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke syurga baginya” (HR Muslim)

“Menempuh jalan” yang dimaksud dalam hadits itu artinya keluar dari rumah melakukan perjalanan. Itu makna yang pertama. Makna yang kedua dari “menempuh jalan” adalah  menempuh cara-cara untuk mendapatkan ilmu.

 

Seperti sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam,

قيدوا العلم بالكتابة

“Ikatlah ilmu dengan menulisnya.” (Silsilah Ahadits Ash Shahihah no. 2026)

Sehingga kita perlu sungguh-sungguh mencatat, merangkum, menghafal dari apa yang sedang kita pelajari. Sedangkan kalau hanya sekedar mendengar, maka ilmu yang didapatpun hanya akan sekedarnya.

 

Semoga Allah Ta’ala menambah semangat kita untuk mempelajari ilmu Tauhid ini dan mengamalkannya.

Kajian ini disampaikan dalam kajian dzuhur di Masjid Jenderal Sudirman WTC, pada tanggal 13 Februari 2017.
Ditranskrip oleh Abu Amatillah.

Hikmah Hijrah Nabi Muhammad oleh KH. Moehammad Zain

Disampaikan dalam Kajian Dzuhur

Di Masjid Jenderal Sudirman, Komplek WTC Jakarta

Tanggal 24 Oktober 2017

Download kajiannya dalam bentuk audio di sini

“Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”
(Shahih Muslim 2674-16)

Silahkan bagikan artikel video ini untuk mendapatkan pahala jariyah.

* Like fanpage kami : facebook.com/MasjidJenderalSudirmanWTC
* Follow twitter kami : twitter.com/mjs_wtc
* Follow instagram kami : instagram.com/mjs_wtc
* Subcribe channel kami : youtube.com/MasjidJenderalSudirmanWTC