Kewajiban yang paling wajib yang harus ditunaikan oleh seorang pemuda muslim adalah memiliki aqidah yang bersih dari bid’ah, khurafat dan syirik.

Allah Ta’ala berfirman,

 

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, (QS An Nahl ayat 36)

 

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS Al Anbiyaa ayat 25)

 

Juga firman-Nya,

 

وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَنِ آلِهَةً يُعْبَدُونَ

 

Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?” (Qs Az Zukhruf ayat 45)
Dan sungguh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah mendakwahkan kepada kita Tauhid yang bersih ini, yang terdiri atas tiga jenis Tauhid

 

Yang pertama, adalah Tauhid Rububiyyah. Yaitu pengakuan akan perbuatan Rabb terhadap makhluq-Nya, baik itu dalam hal memberikan rizki, mengatur alam semesta, menghidupkan, mematikan dan perbuatan-perbuatan Allah Ta’ala yang lain. Terkait hal ini, orang-orang musyrikin Makkah juga dahulu mengakui akan perbuatan Allah Ta’ala, namun meskipun mereka mengakuinya, tetap saja mereka dianggap kaum musyrikin karena mereka tidak men-Tauhid-kan Allah dalam perkara ibadah.

Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Ta’ala,

 

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). (QS. Al-Ankaabut ayat 61)

 

Pengakuan mereka ini tidak memasukkan mereka ke dalam Islam karena mereka tidak memiliki keikhlasan untuk beribadah kepada Allah saja, tanpa menyekutukan-Nya dengan apapun, karena sesungguhnya Sang Maha Pencipta segala sesuatunya, Dia-lah yang berhak untuk diibadahi tanpa disekutukan dengan yang lain-Nya.

 

Jenis yang kedua, adalah Tauhid Ibadah. Inilah Tauhid yang dibawa oleh para Nabi. Mereka diturunkan oleh Allah untuk menyeru manusia kepada Tauhid ini. Allah Ta’ala juga menciptakan makhluk-Nya untuk tujuan Tauhid ini. Karena Tauhid ini pula terjadi permusuhan antara para Rasul dengan ummat mereka yang menentang dakwahnya. Dan seluruh para Nabi berkata kepada kaumnya,

يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

 

“Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” (QS. Al-A’raaf ayat 59)

 

Maka wajib bagi setiap pemuda untuk mengimani Tauhid ini, mendakwahkannya, mencintai para pengusungnya dan bersabar atas gangguan saat berjalan di atasnya.

 

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS Al Hajj ayat 31)

 

Jenis yang ketiga adalah Tauhid Asmaa wa Shifaat. Sungguh Allah Ta’ala telah menjelaskan tentang Tauhid ini dalam banyak ayat al Qur’an. Orang-orang musyrik juga tidak mengingkari Tauhid ini kecuali pengingkaran mereka terhadap nama Allah ar Rahman yang mereka ingkari karena kesombongan dan pembangkangan.

Allah Ta’ala berfirman,

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

 

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hasyr ayat 22)

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang”, mereka menjawab:”Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami(bersujud kepada-Nya)?”, dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman). (QS Al Furqon ayat 60)

Pengingkaran ini karena kesombongan mereka saja, meskipun pada hakikatnya mereka mengetahui nama Allah Ar Rahman sebagaimana disebutkan dalam syair mereka,

 

تلك الموازين و الرحمن أرسلها          رب البرية بين الناس مقياسا

Timbangan-timbangan itu, Demi Allah Arrahman yang mengutusnya, Rabb alam semesta, yang menjadi alat pengukur antar manusia.

 

Dan ayat-ayat dalam al-Qur’an banyak sekali yang menjadi dalil bahwasanya Allah Ta’ala memiliki nama-nama yang indah, sifat-sifat yang tinggi, serta kesempurnaan yang muthlaq dalam dzat, sifat dan banyak perbuataan-Nya. Maka wajib kita mengimani apa yang tercantum dalam al-Qur’an dan as Sunnah yang terkait dengan nama dan sifat-sifat Nya dengan tanpa mentakwilnya, tanpa menguranginya, tanpa meniadakannya, tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluq ataupun mempertanyakan “bagaimana” sifat Allah tersebut.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS. Asy Syuuro ayat 11)

 

 

Selesai diterjemahkan pada hari Kamis 17 Rabi’ul Akhir 1439 H / 04 Januari 2018

di sekretariat Masjid Jenderal Sudirman WTC Jakarta.