Adab Bersama Para Sahabat dan Teman

Allah Ta’ala berfirman,

 

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini. (QS. Al-Kahfi ayat 28)

 

Allah Ta’ala juga berfirman,

 

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (29)

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul."Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulanitu teman akrab(ku).Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.(QS. Al Furqan ayat 27-29)

 

Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

 

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ، وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

Sesungguhnya perumpamaan teman dekat yang baik dan teman dekat yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Seorang penjual minyak wangi terkadang mengoleskan wanginya kepada kamu dan terkadang kamu membelinya sebagian atau kamu dapat mencium semerbak harumnya minyak wangi itu. Sementara tukang pandai besi adakalanya ia membakar pakaian kamu ataupun kamu akan menciumi baunya yang tidak sedap.”(HR. Al Bukhari, no 5534, Muslim no 2628)

 

Di antara adab bersahabat adalah bersahabat dengan orang yang jujur dan beriman, dan tidak bersahabat dengan orang-orang yang zhalim dan buruk, karena sesungguhnya bersahabat dengan orang-orang yang buruk akan menghantarkan kepada permusuhan dan kebencian.

Allah Ta’ala berfirman,

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.(QS. Az Zukhruf ayat 67)

 

Di antara adab bersahabat adalah bersemangat dalam memberikan manfaat kepada sahabatnya. Bersemangat pula dalam mengajarkannya dan memperbaiki akhlaqnya. Mencintainya dengan baik dan tidak menyebarkan aibnya. Hendaknya pula bersahabat dengan para ulama yang bertaqwa, bersahabat dengan orang-orang yang baik dan memiliki akhlaq mulia. Hendaknya pula kita ikhlash dalam membantu sahabat kita.

 

Termasuk adab bersahabat juga adalah meninggalkan permusuhan dan perbuatan dosa, dan tidak menyebarkan cerita dosamu, setelah engkau menyembunyikannya. Tinggalkan pula para pelaku maksiat dan para pecandu khomar dan rokok, serta orang-orang yang lalai dan malas.

 

Di antara adab bersahabat juga adalah hendaknya engkau memilih teman orang-orang yang berakal, yang beragama, yang memilih akhlaq mulia, yang dekat dengan para ulama. Tinggalkanlah orang-orang bodoh, para pendusta, orang-orang yang kikir, para pengecut dan pelaku dosa.

 

Sebagaimana dikatakan dalam sebuah pepatah, Aduwwun aqiilun khoyrun min shodiiqin jaahilin, seorang musuh yang berakal lebih baik daripada seorang teman yang bodoh.

 

Di antara adab bersahabat juga, hendaknya engkau bersahabat dengan niat mengharapkan wajah Allah, dan bukan berniat untuk mendapatkan kemaslahatan dunia. Karena bersahabat dengan niat yang ikhlash, menjadi salah satu penyebab seseorang meraih kelezatan iman. Bersahabat dengan ikhlash karena Allah juga menjadi penyebab seseorang dicintai Allah Ta’ala.

 

Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda,

إِنَّ اللهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلاَلِي الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّي ؟

 

Sesungguhnya Allah berfirman pada hari kiamat: Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena Aku. Hari ini Aku menaungi mereka dalam naungan-Ku yang tidak ada lagi naungan kecuali naungan-Ku?. (HR Muslim, no: 2566)

 

Di antara adab bersahabat juga adalah engkau memberitahukan temanmu jika engkau mencintainya karena Allah.

Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

 

ذَا أَحَبَّ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ

Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah dia memberitahukannya bahwa dirinya mencintainya.”[Shahih:Sunan Abu Dawud (no. 5124)

 

Termasuk adab bersahabat juga adalah mengenal sahabatnya dengan baik. Jika sahabatnya tidak bersamanya maka ia menjaga aib dan rahasianya. Jika sahabatnya sakit, maka ia menjenguknya. Jika sahabatnya wafat, maka ia mengantarkan jenazahnya. Hendaknya ia menjadi penyambung kebaikan bagi sahabatnya. Ia bersemangat memberikan manfaat kepada sahabatnya dan mencintai sahabatnya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Ia mengunjungi sahabatnya, bersegera membantu kebutuhannya dan memberikan yang terbaik sesuai dengan kemampuannya. Hendaknya pula ia tidak berlebihan dalam memuji sahabatnya, bersikap moderat dalam bergaul dengan tetap berpegang kepada ketentuan syari’at.

 

Di antara adab bersahabat juga adalah saling memberikan hadiah, memulai mengucapkan salam dan berjabat tangan saat bertemu, mengucapkan kata-kata yang santun dan menghadapkan wajah kepadanya saat berbicara. Jangan menghina, mengguncingkan, berprasangka buruk kepadanya. Hendaknya banyak memberikan udzur apabila sahabatnya melakukan kesalahan. Jangan membanggakan diri di hadapannya. Luaskanlah majelis tempat duduk untuknya. Panggillah ia dengan panggilan yang paling ia sukai. Jangan menzhaliminya. Doakanlah ia. Periksalah keadaannya. Masukkanlah kebahagiaan dalam hatinya. Tutuplah auratnya. Nasihati ia dengan cara yang baik. Berterimakasihlah kepadanya atas kebaikannya. Maafkan kesalahannya. Dan penuhilah undangannya jika ia mengundang.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.(QS. Al Hujurat ayat 10)

 

Selesai diterjemahkan pada hari Kamis, 15 Jumadal Ula 1439 H / 01 Februari 2018

di sekretariat Masjid Jenderal Sudirman WTC Jakarta